Alhamdulillah akhirnya sempat juga menulis blog ini. Afwan udah lama ga update padahal pembaca skalian udah nunggu cerita selanjutnya ya :D (sok banget). Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi. Monggo disimak cerita lanjutanya...
Setelah mendapat restu dari ortu dan keluarga, akhirnya pada awal Februari 2007 murobbiku mempertemukan aku dengan akhwat yang memiliki nama unik bagiku "Renny Celica" dalam ta'aruf. Ta'aruf diadakan dirumah murobbiku, sekitar jam empat kurang aku sudah dirumah MR. Sambil menunggu akhwat itu datang aku mencoba membuka kembali biodata yang sudah lama ku simpan sejak aku menerima biodata itu, kucermati dan kubaca ulang sambil menyiapkan pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. lima belas menit sudah aku menunggu sedangkan dia dan murobbiyahnya belum juga kelihatan, murobbiku mencoba menghubungi menanyakan sudah sampai mana. Alhamdulillah sekitar setengah lima sore dia bersama murobiyahnya sampai ke rumah MR.
Ta'aruf dibuka oleh MR sekaligus orang yang menjadi moderator. Setelah dibuka langsung MR mempersilahkan kami untuk saling tabayun (konfirmasi) terkait biodata dan hal-hal lain yang ingin kami tanyakan diluar biodata. Pertengahan ta'aruf hujan turun sampai ta'aruf ini berakhir, dalam hatiku aku berdoa "semoga hujan menjadi pertanda berkah Alloh turun dalam proses kami ini, amin". Akhirnya ta'aruf pun selesai menjelang maghrib dan menyisakan kemantapan di hati kami untuk meneruskan proses ini ke jenjang selanjutnya. Alhamdulillahirobbil'alamiin...
Selanjutnya aku dan MRku bersilarurahim kerumah calon mertua. Pertemuan pertama memang mendebarkan, jauh dari yang aku fikirkan ternyata mereka sangat welcome sekali. "Ya begini ini mas orang tuanya Renny" satu perkataan yang masih cukup teringat dalam benakku sampai saat ini. Dari obrolan singkat itu aku bisa menyimpulkan bahwa keluarga sang akhwat baik meski dari sisi agama masih sangat awam. Satu hal yang unik, ternyata rumah sang akhwat berseberangan dengan rumah temen MRku. Tahapan selanjutnya tinggal mengutarakan secara lugas kepada kedua orang tuanya.
Ternyata dari pihak orangtua akhwat hanya memberi lampu kuning yang berarti "panding". Melihat keadaan ini MRku mempertemukan kami dalam second ta'aruf untuk memperjelas progress. Alakulihal, setelah di telpon Abah untuk mengutarakan langsung kepada orang tuanya tentang maksud hati ini dan berangkat sendiri, ku beranikan diri untuk menemui orantuanya dan mengutarakan semuanya. Alhamdulillah mereka menerima dan siap ketika orangtuaku melamar anaknya, diputuskan keluargaku akan melamar tanggal 8 April 2007. Satu anak tangga lagi telah terlewati...
8 April 2007, satu moment yang mungkin tak terlupakan "gue ngelamar akhwat bro..." Segala persiapan sudah dipersiapkan jauh hari dan kami sekeluarga segera take off dari Semarang menuju Karanganyar. Singkat cerita moment ini berjalan lancar ditandai dengan melingkarnya cicin dijarinya sebagai tanda khitbahku untuknya. Tali sudah terikat tinggal mengalungkannya di bahtera pernikahan.
Tak selang berapa lama, keluarga Renny berkunjung ke Semarang. Harapan dari keluargaku semoga segera muncul tanggal pernikahan kami. Alakulihal ternyata permintaan keluarganya akad pernikahan dilakukan tahun depan atau 2008, mendengar hal itu hatiku bergumam "selama itukah?" Padahal untuk menjaga hati dan komunikasi itu teramat susah bagi kami. Bayangkan saja ga pernah pacaran dan sekarang sudah ada orang yang dekat dihati bagaimana kalo terlalu lama? Bisa-bisa kami zina hati. Alasan mereka cukup masuk akal karena penundaan ini untuk mempersiapkan maisyah kami yang belum memadai. Tapi aku yakin ketika maisyahku sudah mantap aku akan "tembak" mereka untuk menyegerakan.
Alhamdulillah, awal Juni 2007 pengumuman dosen diploma 3 FE UNS keluar dan namaku tercantum disana. Melihat peluang untuk mempercepat pernikahan kami aku komunikasikan niatanku ini dengan Abah dan ternyata beliau meng-acc "cihui..maju terus pantang mundur" sorakku senang. Degan mantap aku bersilaturahim kembali kerumah Renny untuk menembak orang tuanya supaya dapat mempercepat pernikahan kami. Sesuai rencana Alloh alhamdulillah mereka merespon positif niatan kami untuk menyegerakan jalinan suci ini. Dipilihlah tanggal 21 Desember 2007 sebagai hari akad pernikahan kami dan tanggal 22 Desember 2007 untuk acara walimah.
Sebelas bulan penantian kami berakhir, penghulu dan saksi telah siap di Masjid Al-Muhaimin tempat yang direncanakan menjadi saksi bisu pernikahan kami. Tetapi Alloh berkehndak lain, menjelang akad dimulai mendung yang sedari tadi menyelimuti langit menurunkan hujan dengan lebatnya sehingga akad terpaksa dipindah di rumah Renny. Ditengah hujan lebat itu Papa Renny mengucapkan ijab "Saudara Adi Firman Ramadhan bin Rachmad saya nikahkan saudara dengan anak saya Renny Celica binti Didik Sumardi dengan maskawin tafsir Al-Quran dan emas sebesar 12,21 gram" dan segera kujawab "Saya terima nikahnya Renny Celica binti Didik Sumardi untuk saya dengan maskawin tersebut tunai". Layar bahtera ini telah terkembang saat kami untuk mengarungi samudera ini berdua. Diselingi dengan air mata yang mengalir tatkala kami harus mencium tangan dan sungkem kepada kedua orang tua kami, kerinduan akan hadirnya Ummi tercinta dalam pernikahanku ini membuat air mata ini mengalir begitu deras. Illahi robbi ijinkan kami untuk senantiasa menjaga ikatan ini yang telah Engkau anugerahkan kepada kami.
Saat ini kami tengah menanti kelahiran buah hati kami yang semoga mampu menjadi generasi penerus kami dalam berdakwah...
